Pagelaran Wayang Kulit di Pekon Waluyojati Hadirkan Ki Dalang Supardi Romo Putro, Bupati Pringsewu Hadir Langsung
Pekon Waluyojati, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu – Warga Pekon Waluyojati menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan bintang tamu Ki Dalang Supardi Romo Putro. Acara berlangsung di tanah lapang 50 meter disamping balai pekon setempat pada Sabtu malam minggu, 20 Juni 2026, mulai pukul 20.00 WIB sampai selesai.
Pagelaran ini diselenggarakan oleh panitia masyarakat pekon waluyojati yang diketuai Ilham Akbar bersama kepanitiaan wayang kulit. Kegiatan ini menjadi rangkaian pelestarian budaya Jawa sekaligus hiburan rakyat setelah pembentukan panitia Merti Desa beberapa waktu lalu.
Suasana panggung riuh sejak awal lakon. Gaya pedalangan Ki Dalang Supardi Romo Putro yang khas, lucu, dan sarat pitutur berhasil menghipnotis penonton dari anak muda sampai sesepuh.
Acara dihadiri langsung Bupati Kabupaten Pringsewu H. Riyanto Pamungkas, Camat Pringsewu Christianto Hariadinata Sani, S.H., M.H., Kepala Pekon Waluyojati Gunawan beserta jajaran aparatur pekon, Bayan, RT, RW, Babinkamtibmas, Polsek Pringsewu, dan ratusan warga.
Bupati H. Riyanto Pamungkas mengapresiasi semangat warga Waluyojati menjaga tradisi. “Saya bangga warga Waluyojati kompak menggelar wayang kulit. Ini bukan sekadar hiburan, tapi media pendidikan karakter dan pelestarian budaya leluhur. Pemerintah daerah siap mendukung kegiatan seperti ini,” ujarnya di sela acara.
Camat Christianto Hariadinata Sani, S.H., M.H., menambahkan pagelaran ini bukti kekompakan lintas generasi. “Anak muda di kepanitiaan wayang kulit ini luar biasa. Ada Ilham Akbar sebagai ketua dan teman-teman panitia yang kerja keras. Semoga jadi motivasi pekon lain,” katanya.
Ketua panitia Ilham Akbar menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak. “Alhamdulillah Ki Dalang Supardi Romo Putro bisa hadir. Terima kasih Pak Bupati, Pak Camat, Pak Kepala Pekon Gunawan dan seluruh warga yang sudah mensukseskan acara malam ini,” ungkapnya.
Pagelaran wayang kulit ditutup menjelang subuh dengan lakon yang mengangkat nilai kebajikan, kepemimpinan, dan gotong royong. Warga berharap tradisi seperti ini rutin digelar agar budaya Jawa tetap hidup di Pekon Waluyojati.
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin